Solusi Agar Terhindar Dari Memakan dan Memakai Harta Haram


​seorang manusia yang hidup di abad modern ini, dituntut untuk mengumpulkan dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya agar bisa hidup layak dan tenang menghadapi masa depan diri dan anak cucunya. pada saat itu orang-orang tidak peduli lagi dari mana harta dia dapatkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“akan datang suatu masa, orang-orang tidak perduli dari mana harta dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram”. (HR. Bukhari)

orang-orang tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2:

1. sebagian manusia tidak peduli akan kaidah rabbani dalam mencapai tujuan mencari harta, kelompok ini dianjurkan untuk memeriksa kembali aqidah mereka dimana mereka telah menjadikan dinar dan dirham sebagai tuhannya dan tidak mengindahkan peraturan Allah.

2. sebagian lagi, orang-orang yang masih memiliki dhamir (hati) yang peka, akan tetapi mereka sedari kecil tidak pernah mengerti dan mempelajari ketentuan Allah tentang muamalat, kelompok ini mau tidak mau akan melanggar syariat Allah saat mengumpulkan harta karena ketidaktahuannya.

SOLUSI: agar terhindar dari memakan dan memakai harta haram

untuk menghindari fenomena ini, sejak zaman Amirul Mukminin Umar bin Khatab telah diambil kebijakan preventif. beliau mengutus para petugas ke pasar-pasar untuk mengusir para pedagang yang tidak mengerti halal-haram dalam jual beli.

perintah Amirul Mukminin “jangan berjualan di pasar ini para pedagang yang tidak mengerti dien (muamalat)” (Sunan Tirmidzi)

juga diriwayatkan dari Abu Laits, ia berkata:

“seorang laki-laki tidak halal melakukan akad jual-beli selagi dia belum menguasai bab fiqh jual-beli.” (LisanulHukkam, hal 359)

tradisi ini masih berjalan hingga abad ke-8 hijriyah di negara2 islam, dikisahkan oleh ibnu Al Hajj:

“aku mendengar guruku Abu Muhammad berkata: bahwa dia masih menemukan di maroko seorang petugas negara yang melakukan pemeriksaan pasar. ia menguji para pemilik toko tentang hukum2 jual beli (muamalat) barang yang didagangkannya dan bagaimana riba bisa terjadi dalam transaksi dagang nya serta bagimana cara menghindari riba. jika pedagang dapat menjawab maka dibiarkan tetap berdagang dan jika tidak bisa menjawab maka petugas menyuruhnya meninggalkan pasar seraya berkata “kami tidak membiarkan engkau berjualan di pasar karena engkau akan memberi umat islam riba dan harta haram”. (Al Madkhal, jilid I hal 157).

Al Ghazali berkata,”merupakan kebiasaan para istri kaum salaf (ulama dahulu) apabila suami mereka keluar bekerja mencari rezeki mereka berkata: kami mampu bertahan menahan kelaparan, akan tetapi kami tidak mampu bertahan memakan makanan neraka Allah”. (Ihya’ ulumuddin, jilid II hal 58).

Al Qarafi berkata,

” Al Ghazali menukil ijma’ dan juga Imam Syafii bahwa seorang mukallaf tidak boleh berkeinginan melakukan sesuatu sebelum ia mengetahui hukum Allah tentang hal tersebut, orang yang hendak berjual beli wajib mempelajari syariat Allah tentang jual beli yang akan dilakukan, orang yang melakukan transaksi ijaroh (sewa) haruz mempelajari hukum Allah tentang ijaroh, orang yang melakukan transkaksi mudharobah wajib mempelajari syariat Allah tentang mudharobah…..maka siapa yang mempelajari serta mengamalkan sesuai dengan ilmunya sungguh dia mentaati Allah dua kali taat. dan siapa yang tidak mempelajari dan tidak mengamalkan sungguh dia mendurhakai Allah dua kali”. (Al Furuq, jilid II hal 148).

Hukum asal setiap muamalat adalah halal kecuali bila terdapat larangan dari Alquran dan Hadits. Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“selama dalam akad tidak terdapat unsur kedzaliman, gharar dan riba maka akad tersebut sah”. Al Mumti’ jilid IX hal 120).

Al Imam Syafii berkata;

“Allah telah menghalalkan setiap jual beli, apabila tidak ada larangan dari Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam”. (Al Umm jilid III hal 3).

maka dari sini dapat disimpulkan bahwa solusi terhidar dari memakan harta haram adalah dengan mempelajari dien (muamalat) dan mempelajari kaidah-kaidah larangan jual beli sehingga kita bisa terhidar dari segala bentuk transaksi yang diharamkan dalam syariat islam.

wallahualam

sumber: Harta Haram Muamalat Kontemporer hal 36 – 40

karya: Dr. Erwandi Tarmizi, MA (pakar fiqih muamalat kontemporer)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s